JOMBANG,Suksesinasional.com – Hamparan tembakau di kawasan Utara Brantas bukan sekadar lanskap pertanian musiman. Di balik tanaman yang tumbuh di ribuan hektare lahan itu, terdapat denyut ekonomi yang menopang kehidupan sekitar 15.000 petani Jombang.
Dinas Pertanian Kabupaten Jombang memperkirakan nilai ekonomi tembakau daun basah pada musim 2026 mencapai hampir Rp487 miliar. Potensi tersebut dihitung dari luas areal sekitar 6.500 hektare, produktivitas minimal 15 ton per hektare, serta asumsi harga daun basah Rp5.000 per kilogram.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Much. Rony, M.M., mengatakan angka tersebut menunjukkan betapa strategisnya tembakau bagi perekonomian masyarakat, terutama di kawasan Utara Brantas yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra tembakau Jombang.
“Nilai ekonomi yang dihasilkan mencapai hampir Rp487 miliar. Potensi besar ini melibatkan kurang lebih 15.000 petani lokal,” ujar Much. Rony saat menghadiri Pembinaan Panen dan Pascapanen Tembakau dalam rangka Panen Raya Tembakau 2026 di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Rabu (7/10/2026).
Data Dinas Pertanian mencatat, hingga 30 September 2026 luas tanam tembakau mencapai 6.508,7 hektare. Dari luasan tersebut, realisasi panen telah mencapai sekitar 5.198 hektare atau 85,75 persen.
Areal tembakau tersebut tersebar di lima kecamatan. Kabuh menjadi wilayah dengan hamparan terluas, sekitar 2.633 hektare, kemudian Ploso 1.340 hektare dan Plandaan 1.172 hektare. Sisanya berada di Kecamatan Ngusikan dan Kudu.
Besarnya skala produksi tersebut membuat Dinas Pertanian tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas. Penguatan kualitas, efisiensi budidaya, pascapanen, ketersediaan sarana produksi hingga akses pasar menjadi bagian dari strategi pengembangan tembakau Jombang.
DBHCHT Perkuat Petani dari Hulu
Salah satu instrumen dukungan pemerintah diberikan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Pada 2026, petani mendapatkan dukungan berupa 350 ton pupuk NPK khusus tembakau, 19 mesin rajang, empat hand tractor dan tiga kendaraan angkut roda tiga.
Dukungan tersebut dilengkapi pembinaan teknis, mulai dari budidaya, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pelatihan pascapanen, demplot pembenihan, pengembangan varietas unggul hingga peningkatan kapasitas petani.
Bagi Dinas Pertanian, bantuan sarana produksi bukan sekadar untuk mendorong peningkatan hasil. Yang lebih penting adalah memastikan petani mampu menghasilkan tembakau dengan kualitas yang sesuai kebutuhan pasar.
“Yang kita dorong bukan hanya produksinya. Kualitas, efisiensi, kemampuan petani dan nilai ekonomi hasil panen juga harus meningkat,” kata Much. Rony.
Tiga Varietas Lokal Jadi Modal Jombang
Pengembangan tembakau Jombang juga memiliki modal penting berupa kekayaan varietas lokal.
Tiga varietas tembakau Jombang, yakni Janten Pakpi 1, Janten Pakpi 2 dan Manilou, telah terdaftar dan dirilis oleh Kementerian Pertanian RI.
Bahkan, kemampuan petani tidak berhenti pada produksi daun tembakau. Sejumlah petani telah mampu memproduksi sekaligus melakukan sertifikasi benih secara mandiri.
Benih tersebut mulai memiliki pasar di luar daerah, termasuk diminati petani di Gresik dan Blitar.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Jombang untuk tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil tembakau, tetapi juga sebagai salah satu sumber benih tembakau yang memiliki nilai ekonomi.
Tembakau Menopang Ekonomi Keluarga
Much. Rony menjelaskan, kuatnya posisi tembakau di Utara Brantas tidak terlepas dari pola pertanian masyarakat yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Petani menerapkan pola rotasi tanaman padi dan tembakau. Hasil panen padi umumnya disimpan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sementara pendapatan dari tembakau menjadi penopang kebutuhan rumah tangga dan biaya operasional pertanian.
“Petani di Utara Brantas memiliki tradisi menyimpan hasil panen padinya untuk kebutuhan sendiri. Kebutuhan operasional sehari-hari ditopang dari hasil panen tembakau,” jelasnya.
Karena itu, regenerasi petani menjadi perhatian Dinas Pertanian. Generasi muda didorong untuk tidak memandang pertanian sebagai pekerjaan tradisional semata, tetapi sebagai sektor usaha yang memiliki peluang ekonomi.
Pembinaan dan pelatihan generasi muda dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga penelitian tembakau di Malang dan Jember.
Produksi Tinggi Harus Diikuti Kepastian Pasar
Di tengah besarnya potensi produksi, tantangan berikutnya adalah memastikan tembakau petani terserap dengan harga yang layak.
Bupati Jombang H. Warsubi menegaskan peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan penguatan kemitraan antara petani, pabrikan dan buyer.
“Petani membutuhkan kepastian pasar dan harga yang wajar, sementara pembeli membutuhkan tembakau dengan kualitas dan kontinuitas yang terjaga. Keduanya harus dipertemukan melalui kemitraan yang terbuka dan saling menguntungkan,” tegas Warsubi.
Pesan tersebut menjadi pekerjaan lanjutan bagi pengembangan tembakau Jombang. Sebab, tingginya produktivitas tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani jika tidak dibarengi pasar yang kuat dan harga yang memberikan keuntungan layak.
Karena itu, Dinas Pertanian mendorong pengembangan tembakau tidak berhenti pada pola tanam–panen–jual, tetapi bergerak menuju penguatan agribisnis dan agroindustri.
Efisiensi budidaya, peningkatan mutu, penguatan kelembagaan petani, inovasi, pengolahan hasil serta perluasan jaringan pemasaran menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tembakau.
Bagi masyarakat Utara Brantas, tembakau memang telah menjadi bagian dari tradisi. Namun bagi Pemerintah Kabupaten Jombang, tradisi tersebut harus mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang semakin modern, berdaya saing dan memberikan kesejahteraan nyata bagi petani.
“Menanam tembakau bukan lagi sekadar kegiatan pertanian, melainkan sudah menjadi bagian dari tradisi dan kebudayaan. Semangat ini yang terus kami dorong agar sektor tembakau semakin maju, berdaya saing, dan menyejahterakan masyarakat,” pungkas Much. Rony.(lil)





