JOMBANG,Suksesinasional.com – Siapa bilang ludruk hanya milik generasi tua? Komunitas Tombo Ati mematahkan anggapan tersebut melalui pementasan ludruk kontemporer bertajuk “WUH” yang sukses menyedot antusiasme masyarakat, khususnya kalangan remaja dan generasi Z (Gen Z), di Gedung Kesenian Jombang, Minggu (11/10/2026).
Dikemas dengan sentuhan kekinian tanpa meninggalkan akar budaya Jawa Timur, pertunjukan ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tetap mampu menarik perhatian generasi muda. Bahkan, tingginya animo penonton membuat kapasitas gedung terisi penuh hingga panitia harus menyediakan layar videotron di luar ruangan agar masyarakat yang tidak kebagian tempat tetap bisa menikmati pertunjukan.
Pementasan gratis untuk umum tersebut menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Jombang Fest 2026, yang digelar untuk menyemarakkan Hari Jadi ke-116 Pemerintah Kabupaten Jombang sekaligus Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur.
Difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Jombang melalui Program Pengembangan Kebudayaan, pertunjukan “WUH” diselenggarakan dalam dua sesi, yakni pukul 15.00 WIB dan 19.30 WIB. Kedua sesi menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati seni pertunjukan yang memadukan tradisi dengan kreativitas kontemporer.
Ludruk Bertransformasi, Tradisi Menemukan Penonton Baru
Kesuksesan “WUH” bukan semata-mata terletak pada padatnya penonton, melainkan juga pada cara kesenian tradisional dihadirkan agar tetap relevan di tengah perubahan selera masyarakat. Ludruk yang selama ini identik dengan hiburan rakyat generasi terdahulu, kini ditampilkan dengan pendekatan yang lebih segar sehingga mampu menjangkau kalangan muda.
Suasana pertunjukan bahkan tidak berhenti di dalam gedung. Panitia menghadirkan kembali nuansa menonton ludruk era 1980-an melalui jajanan tradisional yang dijajakan di area luar, seperti tahu goreng, kacang rebus, dan klanting.
Konsep tersebut menghadirkan perpaduan menarik antara pembaruan seni pertunjukan dan nostalgia budaya. Penonton tidak hanya disuguhi tontonan, tetapi juga diajak merasakan kembali suasana hiburan rakyat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui cara-cara kreatif. Tradisi tidak harus kehilangan jati diri untuk mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya, inovasi dapat menjadi jembatan agar kesenian daerah tetap hidup dan menemukan penggemar baru.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Dra. Wor Windari, M.Si., melalui Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Jombang, Anom Antono, S.Sn., menjelaskan bahwa ludruk merupakan teater rakyat khas Jawa Timur yang memadukan dialog, humor, musik, dan kisah kehidupan sehari-hari.
“Melalui pertunjukan ini, Dikbud Jombang berupaya menghadirkan seni ludruk dalam format yang lebih segar dan relevan. Format kontemporer dipilih agar ludruk tetap diminati oleh generasi muda tanpa menghilangkan ciri khas dan nilai budaya yang dikandungnya,” ujar Anom.
Gedung Kesenian Jadi Ruang Tumbuh Budaya
Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Jombang atas terselenggaranya pementasan tersebut. Dalam sambutan Bupati Jombang Warsubi yang dibacakan Kepala BKPSDM Kabupaten Jombang, Drs. Anwar, M.KP., pemerintah menyampaikan terima kasih kepada Komunitas Tombo Ati, para budayawan, seniman, serta seluruh panitia yang telah berkontribusi menyukseskan acara.
Menurut Anwar, perubahan zaman turut menggeser cara masyarakat menikmati seni. Karena itu, kreativitas dan inovasi diperlukan agar kesenian tradisional tetap memiliki daya tarik, tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi identitasnya.
“Gedung Kesenian ini kami hadirkan sebagai ruang berkarya, berekspresi, dan bertemunya para seniman dengan masyarakat. Mari kita manfaatkan bersama, kenali dan cintai kebudayaan kita, berikan apresiasi kepada para seniman, dan jaga agar kesenian Jombang tetap hidup bagi generasi mendatang,” kata Anwar saat membacakan pesan Bupati.
Pementasan ini turut dihadiri Bunda Literasi Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, anggota DPRD Kabupaten Jombang, staf ahli Bupati, sejumlah kepala perangkat daerah, serta para pegiat budaya.
Melalui “WUH”, Komunitas Tombo Ati menghadirkan pesan bahwa kesenian tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu yang harus dijaga.(lil)





