Ngawi. Suksesi Nasional.com -Tradisi Methil Jelang Panen padi merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang yang masih di lestarikan oleh masyarakat Jawa,Tradisi Menyambut Panen Raya(methil) semakin hilang.
Tradisi Metil (atau Methil) adalah upacara adat masyarakat petani di Jawa, khususnya Jawa Timur (Madiun, Ngawi, Ponorogo), yang dilaksanakan sesaat sebelum memanen padi sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME dan simbol penghormatan kepada Dewi Sri (dewi padi). Ritual ini ditandai dengan memetik segenggam padi, doa bersama, dan pembagian makanan (selametan).
Seperti halnya Pemerintah Desa (Pemdes) Danguk ,Kecamatan Karangjati bersama masyarakat melaksanakan methil di area sawah.Dipimpin oleh sesepuh desa atau tokoh masyarakat, biasanya dilakukan pada pagi hari setelah sholat subuh.
Kepala Desa Danguk Hadi Sudarno mengatakan tujuan methil Sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan permohonan keberkahan agar hasil bumi bermanfaat. Dengan beberapa batang padi dipetik dan dirangkai menyerupai sepasang sejoli (simbol Dewi Sri dan Bagus Sodono/Sedono) sebagai tanda dimulainya panen.
Umumnya menggunakan sesaji,lanjut Kades Jampi Suruh, tumpeng, pisang satu tangkep, telur jawa, dan air kunir apu, yang maknanya merupakan penghormatan kepada leluhur dan permohonan ampunan kepada Tuhan.
Masih menurut Kades Danguk, Hadi Sudarno tradisi methil mencerminkan gotong royong, kerukunan, dan pelestarian kearifan lokal dalam mengolah tanah sawah.
Tradisi ini menjadi momen penting untuk merawat kerukunan warga serta harapan agar hasil pertanian selalu melimpah dan membawa kesejahteraan.(st)





