Beranda Headline

Belum Usai Sambut Pawai Bupati Tinggalkan tempat duduk Akibat Terik Matahari, Fasilitas di pertanyakan!

Rombongan Bupati Jombang saat menyambut pawai grebek apem di dalam terik matahari

Suksesinasional.com JOMBANG — Tradisi Grebeg Apem 2026 yang digelar sebagai bagian dari ritual Megengan menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah kembali menyedot

perhatian masyarakat Kabupaten Jombang. Ribuan warga memadati pusat kota untuk menyaksikan kirab budaya tahunan yang selama ini dikenal sebagai simbol kebersamaan sekaligus pelestarian tradisi lokal.

Namun di balik kemeriahan yang tampak di permukaan, pelaksanaan kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Jombang justru menuai sejumlah kritik tajam. Berbagai persoalan teknis mulai dari minimnya fasilitas dasar, lemahnya manajemen lapangan, hingga insiden keamanan menjadi catatan serius yang memicu pertanyaan publik mengenai kesiapan penyelenggara.

Kirab gunungan apem diberangkatkan dari Lapangan Pemerintah Kabupaten Jombang oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, S.H., M.Si., didampingi jajaran kepala organisasi perangkat daerah. Barisan peserta tampil meriah dengan iringan musik patrol, marching band, kelompok seni tradisional, serta pelajar dari berbagai sekolah.

Penonton memadati sisi jalan untuk menyaksikan arak-arakan yang menjadi agenda budaya tahunan tersebut.
Namun kondisi di area utama acara justru menunjukkan ketidaksiapan yang cukup mencolok. Fasilitas tempat duduk bagi tamu undangan dan pejabat daerah ditempatkan di ruang terbuka tanpa tenda atau terop pelindung, meskipun kegiatan berlangsung di bawah paparan matahari pagi yang sangat cerah.

Ketiadaan naungan tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan dinilai sebagai kelalaian perencanaan teknis yang seharusnya dapat diantisipasi sejak tahap persiapan.

Akibat panas yang semakin menyengat, rombongan Bupati dan Wakil Bupati Jombang akhirnya meninggalkan tempat duduk yang berada di depan pendopo sebelum seluruh rangkaian kirab selesai. Situasi ini menjadi perhatian publik karena jarang terjadi dalam agenda resmi pemerintah daerah berskala besar.

Sejumlah undangan tampak berusaha bertahan dengan berpindah tempat mencari bayangan pohon di sekitar area alun-alun. Bahkan, deretan kursi tamu kehormatan terlihat kosong sebelum acara mencapai puncaknya.
Kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa aspek protokoler dan kenyamanan tamu tidak menjadi prioritas utama dalam perencanaan acara.

“Cuaca panas bukan faktor tak terduga. Ini kegiatan luar ruang yang rutin digelar setiap tahun. Seharusnya sudah ada mitigasi sejak awal,” ujar salah satu pengamat masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

Baca Juga :  Wujudkan Pilkada Damai, Bakesbangpol Kabupaten Magetan Gelar Sosialisasi Pendidikan Politik

Tak hanya soal fasilitas, pelaksanaan Grebeg Apem juga diwarnai insiden kehilangan telepon genggam milik seorang siswa peserta kirab. Dugaan kehilangan terjadi di tengah kegiatan.

Peristiwa tersebut memperkuat kritik terhadap sistem pengamanan acara yang dinilai kurang optimal. Minimnya petugas pengawas di titik-titik kerumunan serta tidak adanya pengaturan arus massa yang jelas dinilai meningkatkan potensi risiko keamanan.

Sejumlah pengamat menilai Grebeg Apem memiliki nilai strategis sebagai agenda budaya sekaligus wajah pariwisata daerah. Karena itu, penyelenggaraannya semestinya mengikuti standar manajemen event modern yang mencakup perencanaan risiko, kenyamanan publik, hingga sistem keamanan terpadu.

Kemeriahan kirab dinilai belum cukup menjadi indikator keberhasilan apabila masih diiringi persoalan mendasar yang sebenarnya dapat dicegah.

“Kegiatan budaya tidak boleh hanya sukses secara visual, tetapi juga harus aman, nyaman, dan tertata. Itu yang menentukan kualitas penyelenggaraan,” ungkap seorang pemerhati budaya lokal.

DKPP Kabupaten Jombang diharapkan melakukan evaluasi komprehensif terhadap seluruh aspek pelaksanaan kegiatan tahun ini. Kritik yang muncul dinilai bukan sekadar keluhan teknis, melainkan refleksi harapan masyarakat agar tradisi daerah dikelola lebih profesional.

Megengan dan Grebeg Apem bukan sekadar agenda seremonial, melainkan simbol nilai religius dan identitas budaya masyarakat Jombang yang telah diwariskan lintas generasi.
Tanpa perencanaan matang, kegiatan besar berisiko menimbulkan citra negatif yang justru mengurangi makna tradisi itu sendiri.

Grebeg Apem 2026 tetap berhasil menghadirkan antusiasme besar masyarakat dan memperkuat semangat pelestarian budaya lokal. Namun berbagai kekurangan teknis yang terjadi menjadi pengingat bahwa keberhasilan agenda publik tidak hanya diukur dari keramaian dan kemeriahan, tetapi juga dari kualitas tata kelola penyelenggaraan.

Publik kini menanti langkah evaluasi nyata agar pelaksanaan Grebeg Apem di masa mendatang tidak lagi menyisakan persoalan yang sama. Tradisi besar membutuhkan manajemen besar bukan sekadar panggung seremonial, tetapi penyelenggaraan yang profesional, humanis, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan semua pihak.(lil)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini