Lamongan, Suksesinasional.com – Panen padi di Kab Lamongan di tahun 2026 sangat baik dan menunjukkan Lamongan sebagai penghasil padi terbaik di Jawa Timur. Selain itu nampak wajah petani Lamongan sangat sumringah, pasalnya harganya yang naik, yang seimbang dengan kebutuhan dan biaya perawatan.
Terkait itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi merespons harga gabah yang saat ini cenderung tinggi diangka Rp 8.400 di tingkat petani. Meski menjadi kabar menggembirakan bagi kesejahteraan petani, Yuhronur mengingatkan agar fenomena ini tidak menjadi permainan spekulan yang justru merugikan masa depan sektor pertanian dan memicu kenaikan harga beras di pasaran.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Lamongan bergerak cepat dengan berkoordinasi bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Di satu sisi masyarakat tentu senang dengan harga gabah yang tinggi, tetapi kita harus hati-hati agar ini tidak menjadi permainan yang tidak baik bagi masa depan petani. Ini menyangkut keamanan pangan kita ke depan. Jangan sampai harga gabah naik, lalu harga beras ikut naik berlebihan,” ujar Yuhronur Efendi.
Yuhronur mengimbau seluruh masyarakat dan petani di Lamongan untuk tidak menjual seluruh hasil panennya. Ia menekankan pentingnya menyimpan sebagian hasil panen sebagai cadangan pangan mandiri di tingkat desa maupun kecamatan.
“Di setiap desa atau kecamatan sebenarnya sudah disiapkan lumbung-lumbung pangan guna cadangan. Jadi terus kita imbau agar ketahanan pangan ini dipelihara dan dijaga sendiri oleh masyarakat,” tegasnya.
Selain fokus pada stabilitas harga dan cadangan pangan, Pemkab Lamongan juga memetakan wilayah-wilayah yang rawan mengalami gagal panen. Dua tantangan utama yang diidentifikasi adalah ancaman hama dan potensi kekurangan air saat musim tanam.
Sementara itu Petani asal Desa Tambakrigadung Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Aji Istiawan mengungkapkan harga gabah terus mengalami peningkatan hal ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
“Musim tanam pertama kemarin rata-rata laku diharga Rp 7.100 perkilo, musin tanam kedua ini syukur bisa Rp 8.400 perkilo. Syukur dengan harga ini petani bisa diuntungkan,” ungkap Aji.
Aji menyebut jika saat ini kalangan petani tidak lagi susah payah seperti dulu, berbagai kebijakan pemerintah mulai dari harga hingga ketersediaan pupuk sangat memudahkan bagi petani.
“Kami merasa lebih diperhatikan sekarang, terutama pupuk harganya bisa lebih murah dan mudah didapatkan,” ucapnya.
Foto: Sebuah mesin combine harvester memanen padi di area persawahan Lamongan, Jawa Timur. Harga gabah di tingkat petani di Lamongan saat ini mengalami kenaikan signifikan, menembus angka Rp 8.400 per kilogram, jauh di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp 6.500 per kilogram. / Bupati Lamongan saat dikonfirmasi tingginya harga gabah diklangan petani.(rul)





