
Suksesinasional.com JOMBANG — Dunia kesehatan kembali diingatkan akan potensi munculnya penyakit menular baru yang bersumber dari hewan ke manusia atau dikenal sebagai zoonosis. Salah satu penyakit yang kini mulai menjadi perhatian dalam upaya kewaspadaan global adalah Virus Nipah, virus langka namun memiliki tingkat keparahan tinggi dan berisiko menimbulkan wabah apabila tidak diantisipasi melalui edukasi serta deteksi dini.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan sekaligus upaya preventif, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang terus menggencarkan sosialisasi kesehatan kepada masyarakat. Edukasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman publik mengenai ancaman penyakit menular, sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan selalu menjadi langkah paling efektif dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Informasi mengenai Virus Nipah disampaikan oleh dokter spesialis paru RSUD Jombang, dr. Tiar Oktavian Effendi, Sp.P, melalui program podcast edukasi kesehatan “Humas RSUD Jombang Menyapa” yang disiarkan pada Rabu (25/02/2026). Dalam dialog edukatif tersebut, masyarakat diajak mengenali karakteristik virus, cara penularan, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penjelasannya, dr. Tiar mengungkapkan bahwa Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah, yang banyak hidup di kawasan pepohonan, kebun, maupun area yang berdekatan dengan permukiman manusia. Interaksi tidak langsung melalui makanan atau lingkungan yang terkontaminasi menjadi salah satu faktor utama penularan.
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di Malaysia dan sejak saat itu beberapa kali menyebabkan wabah di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Infeksi virus ini tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi sistem saraf pusat, sehingga berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak segera ditangani secara medis.
Menurut dr. Tiar, salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi Virus Nipah adalah kemiripan gejala awalnya dengan penyakit umum seperti flu. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri tenggorokan, mual, muntah, serta rasa lelah berlebihan. Kondisi tersebut sering membuat pasien tidak segera mencari pertolongan medis.
“Masa inkubasi Virus Nipah relatif panjang, sekitar dua minggu. Dalam periode itu seseorang bisa tampak sehat, namun kemudian mengalami perburukan kondisi secara cepat ketika virus mulai menyerang organ vital,” jelasnya.
Pada tahap lanjut, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat, penurunan kesadaran, kejang, hingga peradangan otak atau ensefalitis yang berisiko fatal. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap gejala awal menjadi faktor penting dalam upaya penyelamatan pasien.
Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui berbagai jalur, di antaranya kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, paparan cairan tubuh hewan seperti air liur, urin, maupun darah, serta konsumsi buah atau nira mentah yang telah terkontaminasi kelelawar. Selain itu, penularan antar manusia juga memungkinkan terjadi melalui kontak erat, terutama saat merawat pasien tanpa perlindungan yang memadai.
Masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kebersihan makanan dengan mencuci buah sebelum dikonsumsi, menghindari konsumsi produk mentah yang berisiko, serta memastikan makanan dimasak hingga matang sempurna. Kebiasaan sederhana tersebut dinilai mampu menurunkan risiko penularan secara signifikan.
Meski memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi pada beberapa kasus di luar negeri, dr. Tiar menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Hingga saat ini, belum terdapat laporan kasus Virus Nipah pada manusia di Indonesia.
Sosialisasi yang dilakukan tenaga kesehatan merupakan langkah antisipatif untuk meningkatkan kesiapan sistem kesehatan dan pemahaman masyarakat.
“Edukasi ini bukan karena ada wabah, tetapi sebagai bentuk kesiapsiagaan. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat dapat mengenali tanda bahaya lebih cepat dan mengambil langkah yang tepat,” ujarnya.
RSUD Jombang juga menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai benteng utama pencegahan penyakit menular. Kebiasaan mencuci tangan secara rutin, menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan etika batuk, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari kontak dengan hewan liar menjadi langkah sederhana namun efektif dalam melindungi diri.
Menurut dr. Tiar, keberhasilan pengendalian penyakit menular tidak hanya bergantung pada tenaga medis, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Kolaborasi antara fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran penyakit sejak tahap awal.
Melalui sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan, RSUD Jombang berharap literasi kesehatan masyarakat semakin meningkat sehingga masyarakat mampu menghadapi berbagai potensi ancaman penyakit dengan sikap tenang, waspada, serta tetap mengedepankan pola hidup sehat sebagai bagian dari perlindungan diri dan keluarga.(lil)




