Beranda Jombang

Wisuda UNWAHA Jombang: Sekitar 600 Sarjana Menutup Perjalanan Kampus, Membuka Babak Baru

JOMBANG,Suksesinasional.com – Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi, sekitar 600 mahasiswa Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang akhirnya sampai pada satu titik yang telah lama dinantikan: wisuda.

Minggu (4/10/2026), Gedung Serba Guna KH. Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, menjadi saksi berakhirnya perjalanan akademik ratusan mahasiswa tersebut.

Mengenakan toga dan atribut wisuda, para lulusan mengikuti prosesi pengukuhan dengan suasana penuh kebanggaan. Bagi mereka, hari itu bukan sekadar seremoni akademik, melainkan buah dari perjalanan panjang yang diwarnai proses belajar, tugas, ujian, penelitian, hingga perjuangan menyelesaikan pendidikan.

Di hadapan para wisudawan, hadir Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, yang memberikan orasi ilmiah sekaligus pesan untuk menghadapi kehidupan setelah menyandang gelar sarjana.

Zulhas mengingatkan bahwa wisuda bukan garis akhir. Justru setelah meninggalkan bangku kuliah, para lulusan akan memasuki fase kehidupan yang menuntut keberanian untuk menentukan pilihan.

Pesan tersebut disampaikan Zulhas dengan cara yang tidak biasa.

Di tengah orasinya, ia tiba-tiba meminta para wisudawan yang berani untuk maju ke depan podium.

Ratusan orang masih memilih diam.

Hingga beberapa saat kemudian, empat wisudawan akhirnya berdiri dan melangkah menuju podium.

Zulhas kemudian menjadikan momen tersebut sebagai gambaran sederhana mengenai pentingnya keberanian.

“Saudara-saudara saksikan, ini ada empat dari 600 lebih wisudawan yang berani maju. Orang tidak bisa jawab pertanyaan bisa belajar, orang tidak tahu bisa bertanya. Tetapi orang yang berani itu susah dicari,” kata Zulhas.

Menurutnya, pendidikan memberikan bekal pengetahuan, tetapi perjalanan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Para lulusan harus mampu menggunakan ilmu yang dimiliki sekaligus berani mengambil kesempatan.

Dari Gelar Sarjana Menuju Kehidupan Sesungguhnya

Hari wisuda menjadi akhir dari satu perjalanan, tetapi sekaligus awal dari perjalanan lainnya.

Setelah menerima gelar sarjana, para lulusan akan menghadapi dunia yang tidak selalu memberikan jawaban pasti. Mereka harus menentukan pilihan sendiri, menghadapi persaingan, membaca peluang, dan mengambil keputusan.

Sebagian mungkin memilih memasuki dunia kerja. Sebagian lainnya membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau mengabdikan diri kepada masyarakat.

Baca Juga :  LBHAM Sebut Penghentian Program Aspirasi Pemuda dan Peternak di Jombang Berpotensi Langgar HAM, Desak Pemerintah Buka Ruang Dialog

Jalan mereka boleh berbeda, tetapi bekal yang dibawa sama: ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama berada di UNWAHA.

Zulhas kemudian mengajak para wisudawan melihat sejumlah tokoh yang hadir dalam acara tersebut.

“Lihat di depan kita, dulu sekolahnya sama. Ada Bu Nyai Mundjidah, Bu Nyai Hizbiyah, Kiai Hasib Wahab, ada Pak Wakil Gubernur, ada Staf Ahli Menteri dan Menko Pangan. Mereka beda-beda perjuangannya. Kenapa berbeda? Karena berani,” ujarnya.

Ia pun menegaskan bahwa keberanian menjadi salah satu faktor yang menentukan arah perjalanan seseorang.

“Jadi berani itu menentukan jadi apa kita hari ini dan hari depan, itu filosofinya,” tegasnya.

Satu Momen Kecil di Tengah Hari Besar

Empat wisudawan yang berani maju ke podium kemudian mendapatkan apresiasi langsung dari Zulhas. Masing-masing menerima hadiah satu unit tablet.

Tepuk tangan pun pecah di tengah suasana wisuda yang penuh kebahagiaan.

Momen spontan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menarik dalam rangkaian Wisuda UNWAHA 2026.

Namun, lebih dari hadiah yang diterima, empat wisudawan tersebut telah menjadi contoh kecil dari pesan yang disampaikan Zulhas kepada seluruh lulusan.

Bahwa setelah bertahun-tahun belajar, akan tiba saatnya seseorang harus berhenti hanya menjadi pencari jawaban dan mulai berani menentukan jawabannya sendiri.

Menjadi Sarjana, Menjadi Bagian dari Masyarakat

Wisuda UNWAHA 2026 akhirnya menjadi momentum peralihan.

Dari mahasiswa menjadi sarjana.

Dari ruang kuliah menuju ruang pengabdian.

Dari belajar memahami persoalan menuju keberanian mengambil peran dalam menyelesaikannya.

Sekitar 600 lulusan kini membawa nama UNWAHA dalam perjalanan mereka masing-masing. Gelar sarjana menjadi tanda bahwa satu tahap pendidikan telah mereka tuntaskan.

Tetapi nilai sesungguhnya dari perjalanan itu akan terlihat dari apa yang mereka lakukan setelahnya.

Sebab, wisuda bukan sekadar tentang toga yang dikenakan, ijazah yang diterima, atau gelar yang disandang.

Wisuda adalah tentang keberanian menutup satu bab perjalanan dan melangkah membuka bab berikutnya.

Dan bagi sekitar 600 lulusan UNWAHA, babak baru itu resmi dimulai pada hari tersebut.(lil)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini