
Suksesinasional.com JOMBANG – Keberadaan pasar tradisional sebagai pusat perekonomian rakyat di Kabupaten Jombang saat ini menghadapi tantangan yang semakin berat. Di sejumlah wilayah, aktivitas perdagangan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bahkan, beberapa pasar terlihat kurang berfungsi secara optimal karena banyak kios dan lapak yang kosong akibat ditinggalkan pedagang.
Fenomena tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang. Pasalnya, pasar tradisional selama ini tidak hanya berperan sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial masyarakat sekaligus sumber penghidupan bagi ribuan pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga pekerja sektor informal.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Kabupaten Jombang, Anjik Eko Saputro, S.H., M.Si. mengatakan bahwa kondisi pasar yang kurang berfungsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan pola belanja masyarakat, meningkatnya jumlah pasar modern dan minimarket, hingga perkembangan teknologi digital yang mengubah cara masyarakat bertransaksi, Senin(8/6/2026).
Menurutnya, saat ini masyarakat cenderung memilih tempat berbelanja yang dianggap lebih praktis, nyaman, dan mampu menyediakan berbagai kebutuhan dalam satu lokasi. Selain itu, kemudahan berbelanja secara online juga turut memengaruhi tingkat kunjungan masyarakat ke pasar tradisional.
“Perubahan perilaku konsumen memang tidak bisa dihindari. Saat ini masyarakat memiliki banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhannya. Kondisi tersebut tentu memberikan dampak terhadap aktivitas perdagangan di pasar tradisional, terutama bagi pedagang yang belum mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Menurunnya jumlah pengunjung secara langsung berdampak pada pendapatan pedagang. Ketika omzet terus berkurang dan biaya operasional tidak sebanding dengan hasil penjualan, sebagian pedagang akhirnya memilih menghentikan usahanya atau mencari lokasi lain yang dianggap lebih potensial.
Akibatnya, banyak kios dan lapak yang tidak lagi dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Anjik menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi agar pasar tradisional kembali hidup dan mampu menjalankan fungsinya sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah melakukan optimalisasi pemanfaatan fasilitas pasar yang sudah tersedia. Kios dan lapak yang selama ini kosong akan didorong untuk kembali dimanfaatkan sehingga aktivitas perdagangan dapat tumbuh dan menciptakan suasana pasar yang lebih ramai.
“Kami ingin seluruh aset pasar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Lapak-lapak yang kosong harus kembali diisi sehingga aktivitas ekonomi bisa berjalan. Pasar harus kembali menjadi pusat perdagangan yang hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Selain itu, Disdagrin juga terus melakukan pembinaan kepada para pedagang agar lebih adaptif terhadap perubahan kondisi pasar. Pedagang didorong untuk meningkatkan kualitas pelayanan, menjaga kualitas produk yang dijual, serta mengikuti perkembangan tren kebutuhan masyarakat.
Menurut Anjik, salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan pedagang adalah memadukan sistem penjualan konvensional dengan pemasaran digital. Dengan memanfaatkan media sosial maupun platform perdagangan elektronik, pedagang pasar tradisional dapat menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus meninggalkan aktivitas jual beli secara langsung di pasar.
“Era digital harus dilihat sebagai peluang, bukan ancaman. Pedagang bisa tetap berjualan di pasar sambil memanfaatkan media online untuk memperluas pasar. Dengan cara itu, peluang mendapatkan pembeli akan semakin besar,” katanya.
Tidak hanya fokus pada pedagang, pemerintah juga berupaya meningkatkan daya tarik pasar melalui penataan lingkungan pasar yang lebih baik. Kebersihan, keamanan, kenyamanan, serta kemudahan akses menjadi faktor penting yang terus diperhatikan agar masyarakat kembali menjadikan pasar tradisional sebagai pilihan utama dalam berbelanja.
Di tengah gempuran pasar modern, Anjik menegaskan bahwa pasar tradisional masih memiliki banyak keunggulan yang tidak dimiliki pusat perbelanjaan modern. Mulai dari harga yang lebih kompetitif, adanya proses tawar-menawar, kedekatan hubungan antara pedagang dan pembeli, hingga keberadaan produk-produk lokal yang menjadi ciri khas ekonomi kerakyatan.
Karena itu, keberlangsungan pasar tradisional harus dijaga bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan para pedagang, pengelola pasar, dan masyarakat sebagai konsumen. Kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci agar pasar tradisional tetap eksis dan mampu bersaing di tengah perubahan zaman.
“Kami berharap masyarakat tetap mencintai dan memanfaatkan pasar tradisional. Pasar rakyat merupakan bagian penting dari ekonomi daerah. Di sanalah banyak masyarakat menggantungkan kehidupannya. Karena itu, keberadaan pasar tradisional harus terus dipertahankan dan dikembangkan,” tegasnya.
Ke depan, Pemkab Jombang berkomitmen untuk terus melakukan berbagai upaya strategis guna menghidupkan kembali pasar-pasar yang kurang berfungsi. Melalui optimalisasi fasilitas, penguatan kapasitas pedagang, peningkatan kualitas pengelolaan pasar, serta penyesuaian dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat, pasar tradisional diharapkan mampu bangkit kembali menjadi pusat ekonomi rakyat yang kuat, produktif, dan berkelanjutan.
Dengan berbagai langkah tersebut, pasar tradisional tidak hanya diharapkan mampu bertahan menghadapi persaingan modern, tetapi juga kembali menjadi ruang ekonomi yang ramai, dinamis, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Jombang.(lil)


