
JOMBANG,Suksesinasional.com – Penglihatan merupakan jendela utama bagi anak untuk mengenal dunia. Melalui mata, anak belajar mengenali wajah orang tua, membaca, bermain, bersosialisasi, hingga mengembangkan kemampuan motorik, bahasa, dan kecerdasannya. Karena itu, setiap gangguan penglihatan yang terjadi pada masa pertumbuhan tidak boleh dianggap sepele. Semakin cepat gangguan dikenali, semakin besar peluang anak memperoleh penanganan yang tepat sehingga kualitas hidupnya tetap terjaga.
Salah satu gangguan penglihatan yang masih sering luput dari perhatian masyarakat adalah low vision. Tidak sedikit orang tua yang menganggap anak hanya mengalami rabun biasa, padahal terdapat kondisi yang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya meskipun telah menggunakan kacamata, menjalani operasi, maupun mendapatkan pengobatan. Akibatnya, banyak anak baru mendapatkan penanganan ketika gangguan penglihatannya sudah menghambat aktivitas belajar dan perkembangan sehari-hari.
Dokter Spesialis Mata RSUD Jombang, dr. Fatin Sama, Sp.M, menjelaskan bahwa low vision merupakan kondisi ketika seseorang mengalami penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat dikoreksi secara optimal dengan kacamata, lensa kontak, obat-obatan, maupun tindakan operasi. Meski demikian, penderita masih memiliki sisa kemampuan melihat yang dapat dimaksimalkan melalui rehabilitasi visual dan penggunaan berbagai alat bantu.
“Low vision bukan berarti seseorang mengalami kebutaan total. Pasien masih memiliki sisa fungsi penglihatan yang dapat dilatih dan dioptimalkan sehingga tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri,” jelas dr. Fatin.
Menurut klasifikasi World Health Organization (WHO), seseorang dikategorikan mengalami low vision apabila memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 6/18 hingga masih mampu mempersepsikan cahaya atau memiliki lapang pandang yang sangat sempit meskipun telah mendapatkan koreksi maksimal. Kondisi tersebut berbeda dengan kebutaan total atau No Light Perception (NLP), yakni ketika mata sudah sama sekali tidak mampu mendeteksi cahaya.
Penglihatan Berkembang Sejak Bayi Lahir
Perkembangan kemampuan melihat sebenarnya telah dimulai sejak bayi lahir. Bayi yang sehat umumnya memiliki refleks terhadap cahaya dan akan berkedip saat terkena sinar terang. Memasuki usia dua hingga tiga bulan, bayi mulai mampu memusatkan pandangan dan mengikuti benda yang bergerak. Pada usia sekitar enam bulan, kemampuan melihat kedalaman mulai berkembang sehingga bayi dapat memperkirakan jarak suatu objek.
Seiring bertambahnya usia, fungsi penglihatan akan semakin matang hingga mendekati kemampuan orang dewasa saat anak berusia tiga sampai lima tahun. Oleh karena itu, setiap keterlambatan perkembangan penglihatan perlu mendapat perhatian serius agar tidak mengganggu proses tumbuh kembang.
Penyebab Beragam, Bisa Berasal dari Mata Maupun Otak
Low vision diperkirakan dialami sekitar satu dari seribu anak. Penyebabnya pun berbeda antara negara maju dan negara berkembang.
Di negara maju, kasus terbanyak disebabkan oleh Cortical Visual Impairment (CVI), yaitu gangguan penglihatan akibat kelainan pada otak yang berfungsi memproses informasi visual.
Sementara di negara berkembang, penyebab yang lebih sering ditemukan antara lain katarak kongenital, glaukoma kongenital, Retinopathy of Prematurity (ROP) pada bayi prematur, kelainan retina, gangguan saraf mata, hingga kelainan perkembangan sistem penglihatan.
Selain itu, penyakit seperti meningitis maupun gangguan neurologis lainnya juga dapat menyebabkan penurunan fungsi penglihatan karena menghambat proses penghantaran informasi dari mata menuju otak.
Dalam proses melihat, cahaya harus melewati kornea, pupil, lensa, dan badan kaca sebelum diteruskan melalui saraf optik menuju otak untuk diproses menjadi gambar. Gangguan pada salah satu bagian tersebut dapat mengakibatkan low vision yang tidak dapat dikoreksi secara sempurna.
Orang Tua Perlu Mengenali Tanda-Tandanya
dr. Fatin mengingatkan bahwa peran orang tua sangat penting dalam mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini. Beberapa gejala yang patut diwaspadai antara lain bayi yang tidak mampu mengikuti benda bergerak, tidak merespons cahaya, bola mata bergerak sendiri (nistagmus), sering menggosok mata, sangat sensitif terhadap cahaya, kesulitan mengenali wajah atau benda, sering mendekatkan wajah saat melihat objek, hingga anak mengalami penurunan prestasi belajar karena kesulitan membaca tulisan di papan maupun buku.
“Apabila orang tua menemukan tanda-tanda tersebut, jangan menunda untuk memeriksakan anak ke dokter spesialis mata. Semakin cepat diketahui penyebabnya, semakin baik peluang penanganannya,” ujarnya.
Pemeriksaan Menyeluruh untuk Menentukan Penanganan
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari ketajaman penglihatan, lapang pandang, kemampuan membedakan warna, hingga sensitivitas kontras. Selain itu juga dilakukan penilaian functional vision, yaitu pemeriksaan terhadap kemampuan penglihatan yang masih dimiliki pasien dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan program rehabilitasi visual maupun pemilihan alat bantu yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien.
Dampak Tidak Hanya pada Mata, tetapi Masa Depan Anak
Low vision yang tidak mendapatkan penanganan dapat menimbulkan berbagai dampak jangka panjang. Selain menghambat perkembangan motorik dan kemampuan belajar, kondisi ini juga dapat memengaruhi kepercayaan diri, kesehatan psikologis, hingga kemampuan anak bersosialisasi.
Dalam beberapa kasus, gangguan ini dapat menyebabkan ambliopia (mata malas) maupun strabismus (mata juling). Ketika memasuki usia dewasa, keterbatasan penglihatan juga berpotensi mengurangi kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, pekerjaan yang layak, serta kemandirian ekonomi.
Rehabilitasi dan Teknologi Membuka Harapan Baru
Meski tidak selalu dapat disembuhkan, low vision bukan berarti tidak bisa ditangani. Berbagai bentuk rehabilitasi visual mampu membantu penyandang low vision menjalani kehidupan secara lebih mandiri.
Beragam alat bantu dapat dimanfaatkan, mulai dari kacamata khusus, kaca pembesar, lensa teleskopik, hingga perangkat pembesar digital. Pengaturan pencahayaan ruangan, penggunaan huruf berukuran besar, peningkatan kontras warna, serta filter lensa tertentu juga terbukti membantu meningkatkan kenyamanan penglihatan.
Perkembangan teknologi pun semakin memberikan harapan melalui berbagai fitur pada laptop, tablet, maupun telepon pintar, seperti pembesaran huruf, pengaturan kontras layar, hingga screen reader yang membacakan isi tulisan secara otomatis. Bagi anak dengan kehilangan penglihatan yang sangat berat, rehabilitasi tetap dapat dilakukan melalui pembelajaran huruf Braille, pelatihan orientasi dan mobilitas, serta pendidikan khusus sesuai kebutuhan.
Deteksi Dini Menjadi Investasi Masa Depan Anak
Keberhasilan penanganan low vision dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari penyebab penyakit, tingkat keparahan gangguan, kecepatan diagnosis, rehabilitasi visual yang tepat, hingga dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan yang inklusif.
Di akhir penjelasannya, dr. Fatin Sama, Sp.M menegaskan bahwa low vision bukanlah akhir dari harapan seorang anak untuk meraih masa depan.
“Dengan deteksi dini, diagnosis yang tepat, rehabilitasi visual, penggunaan alat bantu yang sesuai, serta dukungan penuh dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar, anak dengan low vision tetap memiliki kesempatan untuk belajar, berprestasi, tumbuh mandiri, dan mengembangkan seluruh potensi terbaik yang dimilikinya.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap kesehatan mata anak merupakan investasi penting bagi masa depan mereka. Pemeriksaan mata secara rutin dan kesadaran orang tua terhadap tanda-tanda gangguan penglihatan menjadi langkah awal agar setiap anak tetap memiliki kesempatan meraih cita-cita tanpa terhalang keterbatasan penglihatannya.(lil)


