Magetan, Suksesi Nasional.com – Upacara adat istiadat bersih desa merupakan tradisi yang masih melekat dan masih di lestarikan pada masyarakat Jawa jugaTradisi yang menjadi agenda tiap tahun.
Bersih desa /sedekah bumi atau nyadran di percayai untuk tolak balak dari hal-hal yang buruk (pagebluk) dan diyakini ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan Riski dari hasil panennya. Dimana dalam upacara adat ini masyarakat membawa makanan/ tumpeng (Ambengan) dari hasil pribumi.
H. Mulyono selaku kepala desa Kartoharjo mengatakan ungkapan terima kasi kepada masyarakat yang masih nguri-nguri peninggalan leluhur.(20/08)

” Saya sangat berterima kasih atas keperdulian masyarakat yang masih peduli dan nguri-nguri peninggalan para leluhur yang diwariskan, karena perjuangan nenek moyang yang cikal bakal babat alas sehingga menjadi desa sangatlah berat, sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kesadaran, keperduliannya melestarikan adat istiadat bersih desa, hari ini juga memperingati HUT RI ke-81.“katanya saat sambutan.
Pihaknya juga menyampaikan tujuan berkumpul di punden ini tak lain melaksanakan selamatan/genduri dan doa bersama.
” Kita berkumpul ini jangan salah niat, berdoa kepada Alloh SWT dan mendoakan para leluhur yang perjuangkan desa Bayemtaman, ini juga sebagai wujud syukur kita semua atas Rahmat Alloh yang di berikan, kita masih di berikan Rahmat kesehatan, Riski dan memohon di jauhkan dari pagebluk , masyarakat bisa guyub rukun” imbuhnya.
Tari Gambyong Pareanom Cirikhas Upacara Adat Istiadat Kartoharjo, Saya berharap pada masyarakat tidak mengartikan juga mengaitkan dengan ajaranan agama maupun keyakinan yang dianggap menyekutukan Alloh atau syirik, karena semua ini kita mengenang nguri-nguri warisan leluhur.
Sebab ini juga kemauan kita bersama, saya mengajak seluruh masyarakat untuk memberikan pengertian dan pemahaman pada generasi – generasi agar selalu mengingat dan melestarikan adat istiadat bersih desa,” pungkasnya.
Upacara adat istiadat bersih desa/sedekah bumi yang dilaksanakan masyarakat Kartoharjo dilakukan tiga hari. Di awali di dusun Becok, di punden krukungan, singgahan, dan di dusun karasan. Hal ini di percayai sebagai petilasan cikal bakal (perdanyangan) dengan ciri khas dari tari tayub sebagai tontonan dan hiburan masyarakat(mar)





