Jember Suksesi Nasional.Com,-Modus menggunakan sistem paket, SPBU 5468129 yang berada di Desa Padomasan, Kecamatan Jombang, Jember menjual BBM bersubsidi kepada para tengkulak.
KUN (55) oknum pengawas di SPBU tersebut ketika dikonfirmasi awak media ini pada Kamis (27 Agustus), mengaku jika dirinya mengijinkan para tengkulak untuk melakukan pembelian BBM bersubsidi jenis pertalite asalkan juga membeli bbm jenis pertamax dengan sistem paket.
“Pakai paket pak. paket hanya 2 kali jalan aja. jadi paket itu harus beli pertamax Rp150000, pertalite 300. Jatahnya 2 kali pak, setelah itu tidak boleh.” Aku KUN dengan mimik muka serius.
“Ya memang kan untuk ini kan orang-orang kan (tengkulak, red) sulit untuk dikendalikan ya pak. Ya saya berusaha untuk ini, akhirnya msih tetap aja akhirnya buat untuk paket.” Imbuh KUN yang juga menerangkan jika dirinya menjadi pengawas di SPBU tersebut kurang dari setahun.
Tidak hanya itu, guna memuluskan praktik ilegal penjualan BBM bersubsidi pada SPBU tersebut, setiap tengkulak juga memberi uang tips sebesar Rp 5000 pada setiap pengisian.
” Dikasih tips Rp 5000 tiap ngisi.” Aku HF, operator SPBU tersebut ketika mendampingi KUN saat menemui awak media ini.
Perlu diketahui, terbongkarnya praktik ilegal penjualan BBM bersubsidi jenis pertalite pada SPBU tersebut ketika ditemukan sebuah kendaraan jenis Toyota Agya warna kuning dengan nopol L 1649 ZE sedang mengisi BBM pertalite berulang kali dalam jumlah besar. Bahkan pada bukti video yang dimiliki media ini ada beberapa jeriken yang diduga sudah berisi BBM Pertalite di dalam mobil tersebut.
Sadar praktik ilegalnya sudah terbongkar, AR (40) pengemudi mobil tersebut langsung tancap gas berupaya melarikan diri dengan mobil tersebut, hingga menyebabkan selang nozle pada mesin pengisian BBM tersebut terputus.
Sempat diwarnai aksi kejar kejaran hingga masuk wilayah Kabupaten Lumajang, AR pengemudi tersebut akhirnya menyerah di rumahnya di Dusun Selok Ondung Desa Sumbersari, Kecamatan Rowokangkung.
AR mengaku setiap hari membeli pertalite dengan sistem paket. Bahkan pada hari itu diakui jika sudah dua kali membeli pertalite di SPBU tersebut.
“Bendino pak, soale atensian. Atensian sitok, maringunu paketan. Menggunakan dua Barcode.” Akunya sembari berupaya menghubungi oknum anggota yang menjadi bekingnya.
Tidak hanya itu, AR juga mengakui jika untuk memuluskan aksinya dirinya dan 8 tengkulak yang lain juga sudah menyetor uang keamanan kepada oknum anggota yang menjadi bekingnya.
“Sakwulane Rp 100.000, entuk Rp 800.000 mobil 8. Paketan pak, perngisi 35 (Pertalite, red) harus ngisi pertamax Rp 150.000, peraturane ngunu.” Akunya sembari memberikan HPnya kepada media ini, agar berbicara langsung dengan oknum anggota yang menjadi bekingnya.
Sementara itu, Mohamad Husni Tahmrin, pelapor pada kasus ini juga sudah diperiksa sebagai saksi lapor di Polsek Jombang pada Kamis (3 September).
“Sekitar 15 pertanyaan yang ditanyakan penyidik, semuanya sudah saya jawab. Kronologinya dan apa yang saya ketahui sudah saya sampaikan kepada penyelidik.” Terangnya.
“Polisi sudah melakukan penyitaan, diantaranya jeriken. Sementara mobil yang waktu itu juga dipakai oleh terduga pelaku sampai sekarang belum dilakukan penyitaan,” Pungkasnya. (Jen)





